Lebaran dalam Kesendirian
Sepertinya lebaran kali ini membuat kesedihan pada diri saya. Setelah mama meninggalkan kami persis di hari lebaran, 4 tahun lalu, orang-orang terdekat pun terasa 'meninggalkan' saya di hari lebaran kemarin. Saya hanya berlebaran bersama ayah, berdua saja! Padahal biasanya, ada dua orang kakak dan para keponakan. Hanya saja, saat ini kita nggak bisa ngumpul bareng on D day..
Kakak pertama sudah mudik ke Palembang, ke rumah orangtua isterinya sejak H-4. Trus, kakak kedua pun sama. Mudik ke Gombong, ke keluarga besar isterinya. Saya? Just stuck in d house. Sedih? You bet! Walau tidak ada air mata yang mengalir, di dalam, hati saya 'menangis'. Biasanya, saya akan mengalihkan rasa sedih dengan menelepon teman-teman. Tapi entah kenapa, saat itu, saya seperti ingin sendiri. Nggak mau menelepon mereka. Toh, saya juga tahu, mereka pasti sedang sibuk berlebaran dengan keluarganya. Repot, pastinya. Walhasil, saya ngerem saja di kamar ditemani dengan berbagai film, buku dan kaset! Entah apa jadinya kalau tidak ada benda-benda itu. Air mata saya pasti tumpah.
Kaset Foo Fighter saya pasang dengan volume sedikit kencang untuk mengurangi kerinduan terhadap orang-orang terdekat. Saya coba untuk menelepon teman-teman kembali. Rupanya, salah seorang teman dekat saya saat kuliah, yang beberapa minggu sebelumnya baru melahirkan juga sedang bersedih. Karena ia mengalami perdarahan yang memaksa dirinya untuk masuk ruang operasi dan dikuret! Duh, gusti. Untung saja, kondisinya sudah membaik.
Saya juga 'kabur' sesaat ke rumah teman dekat, Uwi yang masih tumbang gara-gara radang tenggorokan. Badannya juga masih demam. Rasa sedih saya sedikit berkurang. Walau, saat kembali ke rumah, rasa sepi menghadang lagi. Hmmpffhh..
Namun, saat makan nasi goreng jamur tadi malam, kesepian saya terobati...

<< Home