Friendster Mania
Teknologi cepat berubah. Paling tidak hal itu yang dialami umat manusia saat ini. Bayangkan saja, untuk bisa membeli barang, tak perlu repot-repot keluar rumah. Cukup klik barang yang diinginkan dari internet, lalu kirim nomor kartu kredit, dan jrenggggg… tak berapa lama kemudian, barang yang dipesan sudah tiba di depan rumah.
Tak hanya barang saja yang bisa didapat dari dunia maya. Teman bahkan jodoh pun bisa didapat. Entah sudah berapa banyak ruang interaksi yang disediakan oleh situs di internet. Sepertinya, semakin banyaknya pekerjaan dan sempitnya waktu untuk berinteraksi dengan orang-orang ‘nyata’ lah yang membuat kaum metropolis mulai beralih ke dunia cyber. Gak perlu keluar rumah ataupun kantor untuk bisa mendapat teman. And I’m also a part of it!
Sebenarnya, salah satu fenomena yang menarik dari cyber ini adalah munculnya friendster yang mulai marak di tahun 2004. Saya sendiri sudah tahu tentang situs tersebut pada bulan oktober 2003. Salah seorang rekan jurnalis asal filipina mengirimkan saya tentang friendster. Hanya saja, pada saat itu saya tidak terlalu tertarik dengan si friendster itu. Beberapa rekan yang saya kirimkan pun sepertinya tidak menunjukkan rasa ketertarikan yang tinggi. Bahkan salah satu rekan sejawat sempat nyeletuk, “Kok isinya orang Filipina semua sih di?”.
Memang, saat ditilik-tilik, orang filipina lah yang banyak menghiasi daftar teman-teman di profile-nya teman saya itu. Orang indonesianya, hanya 10 saja!! Tapi bulan februari 2004, friendster mulai merebak di Jakarta. Teman saya yang kebetulan sedang kuliah di London mengirimkan ajakan untuk masuk ke friendster. Karena saya sudah masuk, maka tinggal mencari teman-teman lainnya layaknya jalur MLM alias multi level marketing.
Anehnya, walau saya yang duluan masuk friendster, tapi jumlah friend’s list saya belum beranjak dari angka 60. Sedangkan teman-teman saya sudah 100 bahkan 200!! Memang gila…
Sekarang, saya justru malah balik berpikir. Apa sih yang sebenarnya teman-teman saya cari (termasuk kakak saya yang juga sangat bingung, apa yang didapat dari friendster?) ? Ada yang bilang, ya senang aja ketemu orang baru. Ada juga yang penasaran, “Siapa tahu dapat jodoh”. Namun ada juga yang bertemu dengan teman lamanya yang dulu entah hilang kemana.
Sebelumnya, saya juga hanya merasa iseng-iseng belaka saja. Tapi ternyata, saya juga menemukan teman SMA saya yang tak ketahuan rimbanya. Senang? Tentu saja. Bayangkan saja, 11 tahun kita terpisahkan, tanpa saya tahu keberadaan dia, dan sekarang saya bisa tahu dia berada dimana. Isn’t that nice? ;)

<< Home