Sunday, November 06, 2005

Lebaran dalam Kesendirian

Sepertinya lebaran kali ini membuat kesedihan pada diri saya. Setelah mama meninggalkan kami persis di hari lebaran, 4 tahun lalu, orang-orang terdekat pun terasa 'meninggalkan' saya di hari lebaran kemarin. Saya hanya berlebaran bersama ayah, berdua saja! Padahal biasanya, ada dua orang kakak dan para keponakan. Hanya saja, saat ini kita nggak bisa ngumpul bareng on D day..

Kakak pertama sudah mudik ke Palembang, ke rumah orangtua isterinya sejak H-4. Trus, kakak kedua pun sama. Mudik ke Gombong, ke keluarga besar isterinya. Saya? Just stuck in d house. Sedih? You bet! Walau tidak ada air mata yang mengalir, di dalam, hati saya 'menangis'. Biasanya, saya akan mengalihkan rasa sedih dengan menelepon teman-teman. Tapi entah kenapa, saat itu, saya seperti ingin sendiri. Nggak mau menelepon mereka. Toh, saya juga tahu, mereka pasti sedang sibuk berlebaran dengan keluarganya. Repot, pastinya. Walhasil, saya ngerem saja di kamar ditemani dengan berbagai film, buku dan kaset! Entah apa jadinya kalau tidak ada benda-benda itu. Air mata saya pasti tumpah.

Kaset Foo Fighter saya pasang dengan volume sedikit kencang untuk mengurangi kerinduan terhadap orang-orang terdekat. Saya coba untuk menelepon teman-teman kembali. Rupanya, salah seorang teman dekat saya saat kuliah, yang beberapa minggu sebelumnya baru melahirkan juga sedang bersedih. Karena ia mengalami perdarahan yang memaksa dirinya untuk masuk ruang operasi dan dikuret! Duh, gusti. Untung saja, kondisinya sudah membaik.

Saya juga 'kabur' sesaat ke rumah teman dekat, Uwi yang masih tumbang gara-gara radang tenggorokan. Badannya juga masih demam. Rasa sedih saya sedikit berkurang. Walau, saat kembali ke rumah, rasa sepi menghadang lagi. Hmmpffhh..

Namun, saat makan nasi goreng jamur tadi malam, kesepian saya terobati...

Everybody Has a Second Chance...

Betul. Setiap orang punya kesempatan kedua. Kesalahan yang pernah diperbuat, diakui, untuk kemudian diperbaiki menjadi kesempatan keduanya agar tidak mengulangi hal yang sama. The maid yang bekerja di rumah saya, mempunyai kesempatan kedua untuk memperbaiki dirinya. Sebagai gambaran saja, sebelumnya, sikap the maid ini memang agak 'berbeda'. Perilakunya yaa, sedikit aneh deh. Saya sempat dibuat kesal dengan kelakuannya itu. Hingga akhirnya saya minta dia untuk pulang saja.

Anehnya, dia merasa, kalau saya mengusirnya dengan kasar. Wah, siapa yang tidak tambah kesal. Tapiii dengan kesabaran ekstra tinggi, saya menganggapnya sebagai angin lalu saja. Sempat ia meminta maaf dan tinggal beberapa minggu di rumah, untuk kemudian akhirnya ia benar-benar pulang ke rumahnya.

Hanya saja, hal itu tidak berlangsung lama. Karena kemudian, ia menelepon ke rumah untuk meminta kembali bekerja di rumah. Well, saya bilang, "Apa kamu mau berubah?". Dan ngakunya sih, ia mau mendengar segala omongan saya. Ya sudah, saya berkata dalam hati, "Ini kesempatan kamu yang kedua dan harus dijaga baik-baik." Teman-teman saya banyak melontarkan pernyataan bernada kesal karena kok bisa-bisanya saya menerima kembali the maid yang jelas-jelas pernah menentang saya. Mereka pun menasihati dan mewanti-wanti. Saya katakan, "Ini yang terakhir. Kalau dia aneh-aneh lagi, ya tinggal saya minta untuk pulang saja."

Namun, tanpa perlu saya minta untuk pulang (dengan sedikit perubahan perilaku), ia sudah undur diri. Saya tanya, "Kamu mau balik lagi atau nggak?" Dengan tegas dia bilang, "Nggak!" Ok. Tapi, selang beberapa hari dia menelepon ke rumah dan bilang kalau ia 'dikerjain' teman barunya sehingga gaji yang saya berikan, plus perhiasannya pindah tangan. Saya nggak bisa berkomentar apapun. Lately, dia bertanya lagi, "Boleh nggak saya balik lagi ke rumah mba?" Sekarang, gantian saya yang berkata tegas, "Nggak usah." Period! Sepertinya saya berlaku kejam, tapi saya pikir, dia sudah mendapat kesempatan kedua dan tidak digunakan dengan baik-baik. Jadi, ya sudah. That's my final decision..

Wednesday, July 27, 2005

For Better or Worst..

Ucapan tersebut sering saya dengar manakala ada pasangan yang menikah. "For better or worst, till death do us apart". Kalimat yang sangat indah didengar. Tapi, kalimat tersebut juga bisa berlaku untuk persahabatan. Kok bisa begitu? Ya bisa aja.. Bagi saya, jalinan persahabatan itu tidak hanya dinikmati saat senang saja. Tapi juga saat sedih, susah..

Minggu lalu, saya merasakan sendiri bagaimana seorang teman baik yang sedang bersedih membuat saya ikut bersedih. I can't tell what's her problem. Something personal. Ia menangis, dan saya pun ikut menangis. Karena saya tahu, if Im in her position, saya pasti menangis. Mulanya, ia bercerita dengan biasa saja. Namun, lambat laun, intonasi suaranya agak meninggi sambil dibarengi dengan buliran air mata.

Saya sedih karena dia harus melewati masalah tersebut sendirian. Saya juga sedih, karena saya tidak (or at least belum) mempunyai jalan keluar dari masalahnya itu. I can't help her! Dan itu perasaan yang menyedihkan bagi saya. Well, walau belum bisa memberi jalan keluar, teman saya terlihat membaik.

Lepas dari cerita satu teman, saya mendapat cerita teman yang lain dengan masalah yang berbeda. Teman baik ini harus menghadapi proses kemoterapi. Bukan perkara mudah. Karena setidaknya, diperlukan persiapan mental yang baik. Dan lagi-lagi, saya tidak bisa berbuat banyak. Di saat itu, saya hanya mampu menemaninya makan siang. Untuk mengalihkan pembicaraan seputar proses kemo di keesokan harinya, saya lantas bercerita tentang gebetan saja. :)

Lalu, ada juga cerita seorang teman yang sedang punya masalah dengan pasangannya, either pacar maupun suaminya. Wah, pokoknya, minggu kemarin, hari-hari saya diisi dengan curhat-an mereka. Kata teman saya, "Kamu seperti biro konsultasi deh. Psikolog keliling." Sambil tertawa terbahak-bahak, saya bilang saja, "Inilah calon psikolog yang gagal. Jadi sekarang, bisanya cuma dengerin orang curhat saja. Hahaha."

Honestly, saya selalu senang bila ada teman yang curhat. Walaupun terkadang, saya tidak bisa memberi jalan keluar, at least, I'm there, I'm beside them. And that makes me happy.

I Hate Jakarta!!

Gue lagi benci Jakarta! Kebencian itu makin tinggi voltagenya pas pulang kantor tadi malam. Maksud hati, setelah selesai rapat mingguan, saya ingin pulang cepat. Mengingat hari ini harus mewawancari dokter di FKUI jam 9 pagi. Tapi, sepertinya, jalanan sedang tidak ramah kepada saya tadi malam (well, I think traffic jam become our part of life, right!).

Kalau biasanya saya pulang jam 9 malam, kemarin saya sudah bergegas pulang jam 8. Seperti biasa, saya pulang menggunakan bis. Setelah bergerak, seperti biasa, bis yang saya tumpangi seharusnya masuk tol dalam kota dari depan Manggala Wanabakti ke arah Bogor. Cuma, melihat padatnya kondisi tol saat itu, supir pun memutuskan untuk masuk tol di depan Planet Hollywood.

Terus terang, saat itu saya sudah curiga kalau kemacetan pasti sangat panjang! Terlebih saat melihat deret-deretan truk, bis, dan mobil, yang tidak bergerak, alias parkir! Damn it! Untungnya, saya naik bis yang berpendingin udara plus ditemani MP3 yang menghentak-hentak telinga. Sayang, dua kondisi tersebut masih belum menuntaskan rasa kesal saya pada tol dalam kota saat itu.

Saya mati gaya. Sementara, beberapa penumpang sudah tertidur karena kelelahan, termasuk seorang cowok di sebelah saya. Karena mati gaya itu, akhirnya, jari jemari saya pun mulai menari dengan lincah mengetik huruf-huruf yang ada di ponsel. Beberapa teman saya kirimi SMS. Mulai dari menanyakan keadaan mereka, sampai saya gumamkan kalau bis yang saya tumpangi 'parkir' di jalan tol tersebut. Namun, balasan SMS hanya bisa diitung dengan jari. Selebihnya saya terdiam lagi!

Bis kemudian bergerak perlahan. Saya lihat jam di pergelangan tangan kanan, sudah satu jam perjalanan yang ditempuh hanya dari Slipi mendekati Carrefour MT. Haryono. What?! Saya jadi gelisah. Karena rencana saya untuk bisa tidur cepat, sepertinya bakal rusak. Sejauh ini, saya masih belum tahu apa penyebab kemacetan tersebut.

Dan, setelah bis berbelok menuju arah TMII, baru terlihat penyebabnya. Lampu mobil polisi yang berkedip-kedip di bagian atas, plus mobil petugas jalan tol terlihat berada di sisi kiri jalan. N guess what?! Rupanya, ada truk besar yang sedang mengganti ban!!! S**t! O My God!! Setelah itu, jalan lancar.. car.. car.. Tiba di rumah menjelang jam 10.30 pm! What a night..

Rasanya saya ingin teriak di rumah. Tapi nggak bisa. Setelah mandi, saya coba untuk langsung tidur. Tetap nggak bisa. Dengan posisi radio yang menyala, lamat-lamat terdengar suara sang penyiar. Sebenarnya tidak akan membuat saya menelaah pikiran kalau saja si penyiar tidak menyebutkan SMS salah seorang pendengarnya yang menyesal karena tidak bersikap baik dengan ayahnya sebelum meninggal.

"Ding!" Saya seperti tertohok. Saat mama meninggal, saya merasakan penyesalan yang amat dalam. Saya sering marah karena mama sudah sekali makan. Banyak pantangan yang dicuekin saat ia sakit. Alhasil saat beliau meninggal, saya menyesal. Karena belum meminta maaf! Perlahan, butiran air mata mengalir. Hingga akhirnya saya terisak pelan di keheningan malam. Pada saat bersamaan, SMS seorang teman masuk dan saya ceritakan kesedihan saya. "Boleh telepon," begitu katanya. "Please do," jawab saya.

Setelah itu, air mata makin deras mengalir. Suara saya terasa aneh, tidak seperti biasanya karena harus menahan isakan. Pelan-pelan, saya utarakan rasa kesal saya hingga kejadian tangisan itu. I felt a little bit relieve. "Gue tahu, loe pasti bukan kesal sama macetnya Jakarta. Tapi ada hal lain lagi," ujarnya. Dan terkaan dia memang benar. Karena sebenarnya, masih ada kekesalan lain yang masih berkecamuk di hati saya, which I can't tell it right now..

Sunday, June 12, 2005

Keretaku Tak Berhenti Lama..

Naik kereta itu sangat menyenangkan! Betul.. Setidaknya itu yang saya serta keponakan saya alami. Saat di Calgary, saya senang banget naik C-Train alias Calgary Train. Beli tiketnya juga gampang. Enyahkan pikiran kalau di setiap stasiun bakal ada petugas tiket. Sebab, di sini tak perlu petugas tiket.

Di sini semua serba otomatis. Untuk membuka pintu kereta, tinggal pencet tombol yang ada di luar kereta (tepatnya di samping pintu, berwarna hijau) dan di dalam kereta (di tiang dekat pintu, berwarna putih) dan pintu kereta akan terbuka secara otomatis.

Kalau untuk tiket, tinggal masukan koin 2 dollar canada (hampir 16 ribu rupiah) untuk orang dewasa dan 1.40 dollar canada untuk anak-anak di atas usia 6 tahun, keluar deh karcisnya. Tapi kalau sudah membeli karcis, tinggal di validasi saja di mesin validasi yang ada di setiap stasiun. Nanti akan tercetak jam validasi, tanggal, serta nama stasiun tempat kita membeli tiket.

Nah, tiket tersebut berlaku selama 90 menit. Maksudnya? Begini nih. Saya kasih contoh. Waktu hari jumat lalu, 10 Juni, tadinya saya bersama kakak dan keponakan mau ke Spruce Meadows. Kami naik C-Train dari 6th St W menuju Somerset. Dari situ, menurut mba Yanti, ada shuttle bus menuju Spruce Meadows.

Tapi setelah ke booth shuttle bus itu, kok tak ada tanda-tanda kehidupan. Setelah melihat papan informasi, sepertinya shuttle bus untuk hari itu hanya ada sore hari. Wah... pantesan bis-nya nggak kelihatan. Akhirnya kami pun memutuskan untuk pergi ke rumah rekan kakak saya di daerah Schubert. Untuk menuju tempat tersebut, kami harus menggunakan kereta yang tadi dinaiki menuju Dalhousie. Karena jarak waktu antara kami membeli tiket dan menuju Dalhousie masih dalam rentang 90 menit itu, maka kami tak perlu membeli tiket lagi.

Sebenarnya, tiket tersebut tidak hanya digunakan untuk kereta saja. Kalau saya mau melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bis, karcis tersebut bisa ditunjukkan kepada pengemudi bisnya. Dan saya tidak perlu bayar tiket untuk bis. Enak kan?

Kenikmatan lain juga saya dapatkan dari C-Train ini. Kalau mau pergi ke City Centre atau City Hall, saya tak perlu bayar tiket. Karena jarak dari City Hall ke City Centre termasuk dalam zona bebas tiket alias gratis! Istilah mereka Free Fare Zone. Tapi lepas dari zona tersebut, ya harus bayar. Kedapatan tidak membeli tiket, sudah pasti akan dikenakan denda $50 Canada.

C-Train ini sangat bersih. Tidak ada coret-coretan. Bebas vandalisme. C-Train juga sangat informatif. Selain ada announce nama stasiun saat kereta berhenti, di setiap bagian atas pintu keluar kereta, ada petunjuk stasiun-stasiun yang akan dilewati. Pokoknya jelas deh! Termasuk soal jadwal kereta. Pas jam sibuk, kereta bisa lewat setiap 5 menit sekali. Tapi pas jam tidak sibuk, around jam 09.00-15.00, kereta akan lewat setiap 15 menit.

Satu hal yang juga membuat saya kagum. Di sini C-Train bisa saja berhenti saat lampu lalu lintas berwarna merah dan orang-orang sudah mulai menyeberang. Jadi penyeberang jalan lah yang mendapat prioritas utama.

Melihat C-Train, saya jadi teringat dengan kereta jabotabek yang penuhnya ampun-ampunan. Well, memang nggak bisa dibandingin sih. Apalagi kalau melihat harga tiketnya. Meski saya punya impian, kereta di Indonesia bisa teratur, nyaman dan bersih seperti halnya C-Train. Tapi kapan ya?

Thursday, June 09, 2005

Indahnya Kemandirian

Ada pengalaman baru saat saya berlibur pekan ini. Bayangin aja, pas mau check in di hotel Regency Suite, 610, 4th Avenue SW, Calgary, Frank, temen kakak saya langsung mengambil troly untuk pakaian. Setelah itu, dia langsung memindahkan koper-koper kita yang jumlahnya ada 7! Dengan santainya, Frank mendorong troly dan masuk ke dalam lift.

FYI aja nih, saya juga tidak melihat ada penjaga pintu hotel yang siap membukakan pintu hotel buat tamunya. Padahal kalau di sini, jumlah penjaga pintu itu bisa banyak loh. Kalau dipikir-pikir, saya juga bisa membuka pintu hotel yang gede itu. Kenapa juga harus ada penjaganya?
Hmmm... rupanya, di sini semuanya dilakukan sendiri. Mandiri sekali! Tapi mungkin, seperti itu ya kebiasaan orang sini. Beda sekali dengan di Indonesia. Teman saya juga mengalami hal yang sama saat berkunjung ke Australia. Bisa jadi, ada hubungannya dengan upaya efisiensi. Iya juga sih. Coba pikir, berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan hanya untuk membayar orang yang berdiri di depan pintu.. Wahhhhhh....

Urusan membereskan kamar juga gitu. Sepertinya, cleaning service hanya ditugaskan untuk membereskan tempat tidur dan kamar mandi. Selebihnya, ya urus sendiri. Kamar yang kakak saya tempati kebetulan dilengkapi dengan dishwasher, kompor listrik, vacuum cleaner, dan sapu! Ada kejadian lucu nih. Maklum, sebagai orang yang belum pernah mencuci piring pakai pencuci otomatis, saya jadi gap-tek, alias gagap teknologi. Maka, saya minta seseorang untuk datang ke kamar, mengajari menggunakan dishwasher. Hahahaha...

Pertama, sukses. Katanya sih cuman sebentar aja. Wah cihuy juga. Jadi meringankan pekerjaan. Eh, tapi pas diliat, kok nggak bersih ya. Ah, payah nih. Lalu, pas kedua kali, air yang di dalam dishwasher masih menggenang. Waduh, kenapa lagi ya? Ternyata setelah saya tanya bagian front office, sepertinya waktu yang saya pakai untuk mencuci masih terlalu singkat. Butuh waktu 15-20 menit. Ealahhh... pantesan.. Dan pas kakak ipar saya mencuci, benar tuh. Waktunya sekitar 15 menit. Dan bersih, sih, sih, sih! Saya jadi malu hati. Sudah sesumbar nggak bersih. Hahahaha...

Lain dishwasher, lain pula urusan cuci baju. Daripada pakai jasa laundry hotel, lebih baik mencuci sendiri. Nggak terlalu mahal pula. Kebetulan, tempat untuk mencucinya dekat dengan front office. Jadi nggak repot. Cukup masukkin koin 2 dollar dan pakaian pun tercuci. Setelah itu, masukkan 2 dollar lagi di mesin pengering dan taraaaaaa.. pakaian kering! Tinggal saya lah yang kemudian menyetrika. Jadi, kemarin pagi, saya seperti ibu rumah tangga. Menyetrika sambil menunggu piring yang dibersihkan dengan dishwasher!.. (Foto hotelnya menyusul deh, karena notebook lagi bermasalah nih... belon download software kamera digital.. hiks..)

Nah, itu baru di hotel. Hal lain yang saya amati pas makan di McD yang berada di Stephen Avenue Walk, dekat dengan pertokoan The Bay. Semua pengunjungnya, begitu selesai makan, langsung membawa nampannya dan membuang bekas makanan di tempat sampah. Well, that’s great. Meringankan pekerjaan orang lain sekaligus mendidik kemandiria. Lagipula, bukan hal yang sulit kan untuk membuang bekas makan kita.

Selain soal kemandirian, ada satu hal lagi yang bikin saya senang dengan kota ini. Di sini, orang yang tergolong bukan berusia muda lagi masih produktif. Petugas cleaning service cewek yang membersihkan kamar ini usianya sudah cukup tua. Hmm, saya nggak tahu pasti usianya. Tapi kalau melihat dari kerutan di wajahnya sih, I bet around 60 something.

Begitu juga dengan petugas di bandara, beberapa di antaranya sudah berusia lanjut. Nampaknya, pemerintah tetap memberdayakan para lansia ini. Bagus juga toh. Selama mereka masih sanggup untuk bekerja, why not? Iya, nggak?

Sunday, April 17, 2005

Kisah Robi dan Surya

Hari senin biasanya menjadi hari yang menyebalkan. Bayangkan saja, setelah dua hari berleyeh-leyeh, maen, tidur, nonton film sepuasnya -- alias menikmati hidup-- sekarang we're back to real world, again. Ada beberapa hal yang membuat orang selalu bilang, I dont like Monday..

Pertama, jalanan sudah bisa dipastikan macet! Melebihi hari-hari sebelumnya. Kedua, di hari senin, pekerjaan kembali menumpuk (bahkan ada juga yang sisa-an dari jumat lalu). Ketiga, ini kayaknya yang paling menyebalkan, ada meeting yang mesti dimulai jam 8.00 pagi!! Waaaa....

Tapi, nggak tahu kenapa ya, hari senin ini sedikit tidak menyebalkan buat gue. Nggak ada alasan pastinya. Cuma, tadi malam, sebelum tidur, gue nyiapin baju yang pengen dipake hari ini. Ternyata efeknya lumayan juga. I beat monday blues!! Meski, masih ada satu kerjaan yang mesti dikelarin, gue udah semangat ngantor.. Jarang, jarang tuh..

Cerita nggak berhenti di situ. Pas gue naik bis 43, bis tercintaku itu, ada hal menarik lagi. Tadi, nggak biasanya, bis tak berkondektur. Yang ada hanya dua anak kecil, Robi dan Surya yang bertindak sebagai kondektur. Setelah ditilik-tilik, ternyata, kondekturnya kudu berurusan dengan polisi. Kata si supir sih, nggak jelas tuh apa alasannya. "Saya kan naikkin penumpang di halte. Masa masih ditangkap juga?! Trus, yang ditangkap kondekturnya pula," ujar si supir sambil geleng-geleng nggak mengerti.

Tak ada kondektur resmi, menjadi dimaklumi oleh para penumpang. Dengan bantuan Robi itu, tugas kondektur dia ambil alih. Kalau biasanya, pas sampai di Tol Cibubur atau Taman Mini, kondektur sudah selesai mengambil ongkos para penumpang, tidak dengan tadi pagi. Robi, baru selesai ngumpulin pas bis sudah sampai di Cawang.. Bisa jadi dia pusing mengembalikan duit penumpang yang kebanyakan bayar dengan uang 50 ribu.. Untung saja, para penumpang sangat kooperatif. Banyak yang mewanti-wanti. Seorang ibu sempat ngomong begini, "Itung dulu ya kembaliannya. Awas, jangan sampai pada jatuh duitnya."

Lalu, bagaimana dengan Surya? Mulanya, dia diminta oleh supir untuk menghitung jumlah penumpang yang berdiri. Maksudnya tentu saja supaya bisa dijumlah, berapa uang yang ada. Saat kembali ke depan, si supir bertanya, "Jadi berapa orang yang berdiri sur?". Dengan santainya, Surya cuman bisa menjawab, "Ah, nggak tahu. Pas tadi ngitung sampai 9, si Robi minta nukerin duit 50 ribuan ke bapak. Makanya, saya nggak ngitung lagi." Hahaha... Si supir cuman tertawa terbahak-bahak saja. Begitu juga dengan penumpang yang ada di bangku deret depan. Sedangkan saya, hanya tersenyum simpul saja.

Lumayan, pagi-pagi sudah ada hiburan. Jadi nggak stres lagi mikirin macetnya tol dalam kota!

Wednesday, March 09, 2005

Nari Bali? Yang Bener??!!

Kalimat itu banyak terdengar seiring dengan keinginan saya untuk latihan menari. Malah ada yang terheran-heran dan memasang wajah tak percaya kalau dulu, dulu sekali, saya pernah aktif menari. Nah sekarang, kebetulan banget, di kantor tempat saya bekerja ada 'ekskul' menari. Sejujurnya, sudah lama sekali saya mencari tempat latihan menari. Ngga tahu ya.. Tapi memang begitulah adanya.

Sejak kecil, tepatnya pas lagi SD, menari sudah menjadi bagian hidup saya. Dulu saya menari jaipong. Ya, betul, tarian asal Jawa Barat ini sepertinya sudah mendarah daging dalam hati saya. Boleh dibilang, it's part of my life.. Sungguh!

Saya inget banget tuh, saat SD itu, ada teman yang bilang mau latihan menari jaipong. Tapi, saya nggak diikutkan dalam pembicaraan itu. Sebel, pastinya. Akhirnya, saya maju untuk latihan. Dan rupanya yang bertahan menari tinggal saya dan beberapa gelintir teman saja. Si 'X' itu malah absen latihan melulu... hahahaha...

Saking giatnya latihan, setiap di sekolah, tangan ini rasanya tidak mau diam. Pengennya bergoyang terus, layaknya saat latihan. Goyangan ini terus berlanjut, saat guru latih mengikutkan saya dalam lomba tari. Dapet juara harapan aja.. Gak seru juga, soalnya, guru menari saya ikutan lomba.. Terang saja, saya kalah!! hiks... Tapi nggak apa-apa. Itung-itung latihan PD! hehehe..

Nah, sekarang, keinginan untuk menari kembali tersalurkan. Walau belum ada kelas jaipong atau tarian Sunda, keinginan saya untuk menari Bali terwujudkan. Setiap senin, selama 1,5 jam pasti saya nggak ada di booth.

Menari Bali, hampir sama seperti Jaipongan. Sangat dinamis! Itu yang saya suka. Tapi akibatnya, setiap kali berlatih, keringat pasti mengalir. Kaos yang digunakan sudah basah penuh keringat. But It's fun though!!

Dari menari, banyak hal yang saya dapat. Misalnya saja, perlu kesabaran, ketekunan, dan keselarasan. Sabar... Banyak diperlukan kesabaran. Bayangkan saja, untuk tari Panji Semirang, yang durasinya hanya 6 menit, perlu waktu lebih dari 2 bulan untuk menghapalkan gerakannya! Waaaaaa... dengan asumsi, latihan hanya seminggu sekali saja. Tapi tetap saja, it takes time...

Lalu tekun... Harus tekun berlatih. Bolos sekali saja, saya sudah kehilangan beberapa gerakan. Untung saja, guru latih saya, mas (or should I say Bli) Agung rajin mengulang-ulang gerakan. Jadi, gak terlalu ketinggalan.

Selaras.. Bayangkan saja, sekarang, saya harus menyelaraskan gerakan yang melibatkan gerakan mata, kepala, tangan, badan, jari-jari tangan, dan kaki! Rumit yaa ternyata... Matanya belum sempat mendelik atau melotot, tahu-tahu tangannya sudah harus bergerak ke lain arah... Aduhhhhh... belum lagi kalau mendadak lupa gerakannya. Kata teman saya, "Gimana kalau kita mentas nih. Kayaknya mas Agung harus ada di depan kita deh?" Hahahaha...

Tidak ada target dari latihan ini. Yang penting, saya jadi tahu dan bisa menari Bali. Sempat terbersit juga di kepala saya. "Hmm, nanti anak gue harus gue masukin ke kelas menari!".. Cuman, nunggu anaknya ini yang mungkin masih agak lama. Soalnya, belum ada calon bapaknya!! Huahahaha....

Sunday, February 13, 2005

Haloscan commenting and trackback have been added to this blog.