Indahnya KemandirianAda pengalaman baru saat saya berlibur pekan ini. Bayangin aja, pas mau check in di hotel Regency Suite, 610, 4th Avenue SW, Calgary, Frank, temen kakak saya langsung mengambil troly untuk pakaian. Setelah itu, dia langsung memindahkan koper-koper kita yang jumlahnya ada 7! Dengan santainya, Frank mendorong troly dan masuk ke dalam lift.
FYI aja nih, saya juga tidak melihat ada penjaga pintu hotel yang siap membukakan pintu hotel buat tamunya. Padahal kalau di sini, jumlah penjaga pintu itu bisa banyak loh. Kalau dipikir-pikir, saya juga bisa membuka pintu hotel yang gede itu. Kenapa juga harus ada penjaganya?
Hmmm... rupanya, di sini semuanya dilakukan sendiri. Mandiri sekali! Tapi mungkin, seperti itu ya kebiasaan orang sini. Beda sekali dengan di Indonesia. Teman saya juga mengalami hal yang sama saat berkunjung ke Australia. Bisa jadi, ada hubungannya dengan upaya efisiensi. Iya juga sih. Coba pikir, berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan hanya untuk membayar orang yang berdiri di depan pintu.. Wahhhhhh....
Urusan membereskan kamar juga gitu. Sepertinya,
cleaning service hanya ditugaskan untuk membereskan tempat tidur dan kamar mandi. Selebihnya, ya urus sendiri. Kamar yang kakak saya tempati kebetulan dilengkapi dengan dishwasher, kompor listrik,
vacuum cleaner, dan sapu! Ada kejadian lucu nih. Maklum, sebagai orang yang belum pernah mencuci piring pakai pencuci otomatis, saya jadi gap-tek, alias gagap teknologi. Maka, saya minta seseorang untuk datang ke kamar, mengajari menggunakan dishwasher. Hahahaha...
Pertama, sukses. Katanya sih cuman sebentar aja. Wah cihuy juga. Jadi meringankan pekerjaan. Eh, tapi pas diliat, kok nggak bersih ya. Ah, payah nih. Lalu, pas kedua kali, air yang di dalam
dishwasher masih menggenang. Waduh, kenapa lagi ya? Ternyata setelah saya tanya bagian
front office, sepertinya waktu yang saya pakai untuk mencuci masih terlalu singkat. Butuh waktu 15-20 menit. Ealahhh... pantesan.. Dan pas kakak ipar saya mencuci, benar tuh. Waktunya sekitar 15 menit. Dan bersih, sih, sih, sih! Saya jadi malu hati. Sudah sesumbar nggak bersih. Hahahaha...
Lain
dishwasher, lain pula urusan cuci baju. Daripada pakai jasa laundry hotel, lebih baik mencuci sendiri. Nggak terlalu mahal pula. Kebetulan, tempat untuk mencucinya dekat dengan
front office. Jadi nggak repot. Cukup masukkin koin 2 dollar dan pakaian pun tercuci. Setelah itu, masukkan 2 dollar lagi di mesin pengering dan taraaaaaa.. pakaian kering! Tinggal saya lah yang kemudian menyetrika. Jadi, kemarin pagi, saya seperti ibu rumah tangga. Menyetrika sambil menunggu piring yang dibersihkan dengan
dishwasher!.. (Foto hotelnya menyusul deh, karena notebook lagi bermasalah nih... belon download software kamera digital.. hiks..)
Nah, itu baru di hotel. Hal lain yang saya amati pas makan di McD yang berada di Stephen Avenue Walk, dekat dengan pertokoan The Bay. Semua pengunjungnya, begitu selesai makan, langsung membawa nampannya dan membuang bekas makanan di tempat sampah.
Well, that’s great. Meringankan pekerjaan orang lain sekaligus mendidik kemandiria. Lagipula, bukan hal yang sulit kan untuk membuang bekas makan kita.
Selain soal kemandirian, ada satu hal lagi yang bikin saya senang dengan kota ini. Di sini, orang yang tergolong bukan berusia muda lagi masih produktif. Petugas
cleaning service cewek yang membersihkan kamar ini usianya sudah cukup tua. Hmm, saya nggak tahu pasti usianya. Tapi kalau melihat dari kerutan di wajahnya sih,
I bet around 60 something.
Begitu juga dengan petugas di bandara, beberapa di antaranya sudah berusia lanjut. Nampaknya, pemerintah tetap memberdayakan para lansia ini. Bagus juga toh. Selama mereka masih sanggup untuk bekerja,
why not? Iya, nggak?